BELAJAR SALAF

welcome

Assalamu'alaikum...

salahkah sikap keras dalam dakwah


Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Islam memiliki cara dan metode dalam berdakwah sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi. Tentunya hal itu tidak lepas dari bimbingan syari’at.Terkadang dakwah harus disampaikan dengan sikap lemah lembut dan terkadang dengan sikap keras, tegas, dan lugas. Namun sikap yang kedua ini sering dianggap sebagai sikap yang salah dan tidak mengandung hikmah. Bahkan terkadang dianggap dapat menimbulkan akibat yang fatal bagi dakwah itu sendiri. Sehingga muncul protes dari berbagai pihak ketika salah seorang da’i bersikap keras, tegas dan lugas dalam dakwahnya.

Sudah Saatnya Kita Bangkit....


oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

Dalam kesempatan yang mulia ini, kita memanjatkan puji syukur kepada Allah yang masih menganugerahkan kepada kita, kesempatan untuk tetap mengecap nikmat Allah yaitu menuntut ilmu. Sesungguhnya majelis-majelis Ahlus Sunnah yang dipenuhi oleh kaum muslimin dalam rangka menuntut ilmu tentang agama Allah, inilah yang ditakuti oleh musuh-musuh Islam. Karena majelis-majelis ilmu yang digelar oleh Ahlus Sunnah merupakan kelanjutan dari majelis-majelis para nabi. Di sana diajarkan tentang wahyu Allah yang berupa Al Quran dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sehingga orang-orang yang keluar dari majelis-majelis ahlus sunnah mampu membawa pengetahuan tentang agama Allah, penambahan iman, dan kekuatan di dalam memegang As Sunnah. Maka lahirlah dari majelis-majelis ilmu ini orang-orang yang militan terhadap agama Allah.

Berkata Sahl bin Abdillah At Tusturi rahimahullah:

من أراد أن ينظرإلى مجالس الأنبياء فلينظرإلى مجالس العلماء

“Barangsiapa yang ingin melihat kepada majelis-majelis para nabi ‘alaihimus shalaatu was salaam, maka silahkan dia melihat kepada majelis-majelis para ulama”.

Obyektifitas Memvonis Menurut ulama Ahlussunnah


Oleh: Abu Muhammad Abdul Mu’thi Al-Maidani

A. Peran Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah

Kita telah mengetahui secara bersama bahwa manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah metodelogi agama yang benar sehingga setiap muslim yamg sejati tidak lagi membutuhkan kepada yang selainnya. Para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah telah memperjuangkan manhaj ini dari masa ke masaYang demikian itu, bisa kita saksikan dengan membaca buku-buku mereka yang memuat bergudang-gudang ilmu guna menerangkan manhaj yang shahih ini. Bahkan tak jarang pula, kita menyaksikan mereka membantah ahlul bid’ah dengan keras di dalam karya-karya tulis yang mereka susun. Mereka melakukan semua itu demi menjaga kemurnian agama Allah dari beraneka ragam bid’ah yang selalu muncul pada setiap masa.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :

“Yang selalu akan membawa ilmu ini pada setiap generasi belakang hari adalah orang-orang yang terpercaya. Mereka mengenyahkan darinya pengubahan orang-orang yang ekstrem, perbuatan dusta orang-orang yang bathil, dan pentakwilan orang-orang yang jahil.” (Hadits Hasan, lihat Ta’liq Al Hiththah oleh Syaikh Ali Hasan[1])

Ilmu yang dimaksud dalam hadits ini adalah agama itu sendiri, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tabi’in, Al-Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah :

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil Agama kalian.” (Muqaddimah Shahih Muslim 1/14)

Berkata Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rohimahullah dalam kitabnya “Miftah Daarus Sa’adah” :

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengabarkan bahwa ilmu yang beliau bawa akan selalu dipikul oleh orang-orang yang adil diantara generasi belakangan dari umatnya, sehingga ilmu beliau tidak tersia-siakan dan sirna[2].”

Demikian pula pendapat Al ‘Allamah Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya “Ad Dinul Khalish” (3/261-263) ketika menjelaskan hadits ini :

JANGAN PERCAYA RAMALAN BINTANG





بسم الله الحمن الرحيم

Penulis: Al Ustadzah Ummu Ishaq Al Atsariyyah

Horoskop atau mudahnya kita sebut ramalan nasib seseorang dengan melihat bintang kelahirannya, termasuk satu kolom atau rubrik yang laris manis di surat kabar, tabloid, ataupun majalah. Bahkan bisa ditanyakan lewat sms ke paranormal tertentu yang memasang iklan di sejumlah media. Yang berbintang pisces, pantasnya berjodoh dengan yang berbintang A. Keberuntungan di tahun ini demikian dan demikian… Dalam waktu-waktu dekat ini ia jangan bepergian keluar kota karena bahaya besar mengancamnya di perjalanan. Untuk yang berbintang sagitarius, tahun ini lagi apes… Tapi di penghujung tahun akan untung besar, maka bagusnya ia usaha begini dan begitu… Cocoknya ia mencari pasangan gemini. Demikian contoh ramalan yang ada!

Anehnya, ramalan dusta seperti ini banyak yang percaya. Bahkan di antara mereka bila melihat surat kabar atau majalah, rubrik dusta ini yang pertama kali mereka baca. Khususnya yang menyangkut bintang kelahiran mereka atau bintang kelahiran kerabat dan sahabat mereka. Ada yang menggantungkan usaha mereka dengan ramalan bintang, untuk mencari jodoh lihat apa bintangnya dan seterusnya.

METODE SELAMAT


Penulis: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Metode salaf, ahlus sunnah wal jama’ah dalam memahami agama ini sangat tepat dan selamat dari berbagai macam penyimpangan.1. Dalam masalah Tauhid

Mereka, para ulama ahlus sunnah selalu mementingkan tauhid dan menjelaskan bahwa tauhid لا اله إلاا الله bermakna “Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah (uluhiyyah), sebagaimana terkandung dalam ayat:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا… (النساء: 36)

Beribadahlah kepada Allah dan jangan-lah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun… (an-Nisaa’: 36)

Dengan prinsip ini, mereka selamat dari kekafiran atheisme yang tidak bertuhan dan selamat pula dari paganisme yang bertuhan banyak.

2. Dalam masalah Asma’ wa Sifat

Mereka, para ulama ash-habul hadits (ahlus sunnah) tidak berani berbicara tentang sifat-sifat Allah kecuali apa yang telah dikatakan oleh Allah dalam al-Qur’an dan apa-apa yang telah dijelaskan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam hadits-hadits yang shahih. Mereka tidak berani pula menarik maknanya kepada makna lain selain apa yang terdapat pada teks-nya. Karena masalah sifat-sifat Allah adalah ghaib, tidak ada seorang pun yang dapat menebak-nebak atau memikirkan dzat Allah.

KUNCI-KUNCI SURGA


Oleh: Al Ustadz Agus Su’aidi)*

Ibarat sebuah pintu, surga membutuhkan sebuah kunci untuk membuka pintu-pintunya. Namun, tahukah Anda apa kunci surga itu? Bagi yang merindukan surga, tentu akan berusaha mencari kuncinya walaupun harus mengorbankan nyawa. Tetapi Anda tak perlu gelisah, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan pada umatnya apa kunci surga itu, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang mulia, beliau bersabda:

“Barang siapa mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah dengan penuh keikhlasan, maka dia akan masuk surga.“ (HR. Imam Ahmad dengan sanad yang shahih).

Ternyata, kunci surga itu adalah Laa ilaahaa illallah, kalimat Tauhid yang begitu sering kita ucapkan. Namun semudah itukah pintu surga kita buka? Bukankah banyak orang yang siang malam mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah, tetapi mereka masih meminta-minta (berdoa dan beribadah) kepada selain Allah, percaya kepada dukun-dukun dan melakukan perbuatan syirik lainnya? Akankah mereka ini juga bisa membuka pintu surga? Tentu tidak mungkin!

Dan ketahuilah, yang namanya kunci pasti bergerigi. Begitu pula kunci surga yang berupa Laa ilaaha illallah itu, ia pun memiliki gerigi. Jadi, pintu surga itu hanya bisa dibuka oleh orang yang memiliki kunci yang bergerigi.

Al Imam Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya (3/109), bahwa seseorang pernah bertanya kepada Al Imam Wahab bin Munabbih (seorang tabi’in terpercaya dari Shan’a yang hidup pada tahun 34-110 H), “Bukankah Laa ilaaha illallah itu kunci surga?” Wahab menjawab: “Benar, akan tetapi setiap kunci yang bergerigi. Jika engkau membawa kunci yang bergerigi, maka pintu surga itu akan dibukakan untukmu!”

Lalu, apa gerangan gerigi kunci itu Laa ilaaha illallah itu?

Ketahuilah, gerigi kunci Laa ilaaha illallah itu adalah syarat-syarat Laa ilaaha illallah. Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qashim Al Hambali An-Najdi rahimahullah, penyusun kitab Hasyiyyah Tsalatsatil Ushul, pada halaman 52 kitab tersebut menyatakan, syarat-syarat Laa ilaaha illallah itu ada delapan, yaitu:

Pertama: Al ‘Ilmu (mengetahui)
Maksudnya adalah Anda harus mengetahui arti (makna) Laa ilaaha illallah secara benar. Adapun artinya adalah: “Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barang siapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, niscaya dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).

Seandainya Anda mengucapkan kalimat tersebut, tetapi Anda tidak mengerti maknanya, maka ucapan atau persaksian tersebut tidak sah dan tidak ada faedahnya.

Kedua: Al Yaqin (Meyakini)
Maksudnya adalah Anda harus menyakini secara pasti kebenaran kalimat Laa ilaaha illallah tanpa ragu dan tanpa bimbang sedikitpun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah sambil membawa dua kalimat syahadat tersebut tanpa ragu kecuali pasti dia akan masuk surga.” (HR. Muslim).

Ketiga: Al Qobul (Menerima)
Maksudnya Anda harus menerima segala tuntunan Laa ilaaha illallah dengan senang hati, baik secara lisan maupun perbuatan, tanpa menolak sedikit pun. Anda tidak boleh seperti orang-orang musyirik yang digambarkan oleh Allah dalam Al Qur’an:

Membantah Ahlul Bid’ah, Sebab Perpecahan?


Banyak orang mengatakan bahwa pihak-pihak yang membantah ahlul bid’ah mereka itu adalah penyebab perpecahan.
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan:
Benar, mereka itu adalah penyebab perpecahan (yakni yang membedakan dan memisahkan, pent) antara yang haq dengan yang batil, ini yang benar.
Kami membedakan/memisahkan antara yang haq dengan yang bathil, antara ahlul haq dengan ahlul bathil. Senantiasa kami akan membantah (kebatilan dan para pelakunya), demikian pula para ulama juga membantah mereka.
Yang seperti ini bukanlah untuk membikin perpecahan, akan tetapi justru ini untuk menyatukan umat di atas al-haq. Karena keberadaan umat manusia di atas kesesatan dan di atas pemikiran-pemikiran yang batil, inilah sesunggguhnya yang menyebabkan perpecahan antar umat Islam.